Arsip saya

Jumat, 20 Januari 2012

BAB VII

LAYANAN BIMBINGAN “PEMBERIAN INFORMASI”

A. Tujuan Pemberian Informasi dan Tipe-Tipe Informasi

1. Tujuan Pemberian Informasi

Tujuan pemberian informasi dilakukan untuk membekali para siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta di bidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang perkembangan pribadi – sosial, supaya mereka dengan belajar tentang lingkungan hidupnya lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.

2. Tipe-tipe Informasi

Ada tiga tipe dasar yang disajikan kepada siswa sebagai informasi yang biasanya dibedakan, yaitu :

a. informasi tentang pendidikan sekolah yang mencakup semua data mengenai variasi program pendidikan sekolah dan pendidikan prajabatan dari berbagai jenis, mulai dari semua prasyarat penerimaan sampai dengan bekal yang dimiliki pada waktu tamat.

b. Informasi tentang dunia pekerjaan yang mencakup semua data mengenai jenis-jenis pekerjaan yang ada di masyarakat, level pekerjaan, mengenai persyaratan tahap dan jenis pendidikan, mengenai system klasifikasi jabatan .

c. Informasi tentang proses perkembangan manusia muda serta pemahaman terhadap sesama manusia mencakup semua data dan fakta mengenai tahap-tahap perkembangan serta lingkungan hidup fisik dan psikologis dan hubungan timbal balik antara perkembangan kepribadian dan pergaulan social di lingkungan masyarakat.

B. Pengumpulan Bahan Informasi

1. Bentuk-bentuk dan sumber-sumber Bahan Informasi

Bentuk konkret bahan informasi dapat berupa empat macam, yaitu :

- Lisan

- Tertulis

- Audiovisual

- Disket program computer

Bahan informasi harus sesuai dengan criteria :

a. Bahan informasi harus akurat dan tepat, yaitu menggambarkan keadaan yang nyata dan konkret pada saat bahan itu disusun

b. Bahan informasi harus jelas dalam isi dan cara menguraikan, sehingga pihak pemakai mudah menangkapnya.

c. Bahan informasi harus relevan bagi siswa di jenjang pendidikan tertentu, mengingat kebutuhan pada fase perkembangan tertentu.

d. Bahan informasi harus disajikan secara menarik, sehingga menimbulkan minat siswa untuk mempelajari dan mengolahnya.

e. Bahan informasi yang disajikan oleh orang perorangan harus bebas dari segala factor subjektif yang mengaburkan ketepatan dan kebenaran dari informasi itu

f. Bahan informasi harus berguna dan bermanfaat bagi kalangan siswa di jenjang pendidikan menengah.

C. Penggunaan Informasi untuk Keperluan Bimbingan

Penggunaan informasi untuk keperluan bimbingan akan ditinjau dalam kaitannya dengan pelayanan bimbingan individual dan pelayanan bimbingan kelompok.

1. Dalam Pelayanan Individual

Dilakukan dalam wawancara konseling. Selama proses konseling, konselor akan memberikan informasi kepada konseli untuk membantu siswa dalam mencari penyelesaian atas masalah yang dihadapinya dan tidak menempatkan konselor dalam posisi sebagai orang yang serba tahu dan harus dituruti (authoritarian role). Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh konselor dalam menyampaikan informasi :

- Pemberian informasi berbeda dengan pemberian nasihat atau saran

- Informasi harus sesuai dengan kenyataan dan disajikan secara objektif, yaitu bebas dari prasangka dan segala kesan pribadi.

- Informasi jabatan tidak hanya mencakup jenis-jenis pekerjaan yang ada di masyarakat tetapi juga berbagai tingkatan atau gradasi dalam posisi dalam lingkup jabatan.

2. Dalam Pelayanan Kelompok

Data dan fakta tentang dunia pekerjaan, dunia pendidikan serta proses perkembangan orang muda kerap juga diinformasikan kepada kelompok siswa. Keuntungan pemberian informasi secara kelompok adalah menghemat waktu dan tenaga dibandingkan dengan pemberian informasi secara individual, menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan tenaga bimbingan yangt memungkinkan siswa lebih berkeinginan untuk membicarakan perencanaan masa depan atau permasalahan pribadi-sosial dalam wawancara konseling, menyadarkan siswa bahwa kenyataan yang sama juga dihadapi oleh teman-temannya sehingga mereka terdorong untuk berusaha menghadapi kenyataan itu bersama-sama dan saling mendiskusikannya.

Kelemahan pemberian informasi secara kelompok ialah kebutuhan individual masing-masing siswa akan informasi yang lebih spesifik tidak dapat sepenuhnya dilayani, informasi yang disampaikan tidak akan dapat terlalu mendalam dan lengkap karena tingkat kedalaman dan kelengkapan yang dibutuhkan oleh masing-masing siswa dalam kelompok tidak sama sehingga informasi yang disampaikan diselaraskan dengan kebutuhan rata-rata dalam kelompok, tidak semua siswa akan sama-sama tertarik dan melibatkan diri karena daya tangkap, minat dan tingkat kedewasaan berbeda-beda.

BAB 17 ORGANISASI DAN ADMINISTRASI BIMBINGAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) defenisi dari organisasi dan administrasi :

Organisasi adalah kesatuan susunan yang terdiri atas bagian-bagian orang dan sebagainya di dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu atau kelompok kerja sama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Administrasi adalah usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara-cara penyelenggaraan pembinaan organisasi, kebijaksanaan untuk mencapai tujuan, kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintah, kegiatan kantor dan tata usaha.

Jadi yang dimaksud dengan administrasi bimbingan yaitu yang mencakup administrasi terhadap orang (tenaga-tenaga bimbingan) dan administrasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang itu, mengadministrasikan bimbingan juga mempunyai segi ketatausahaan terhadap tenaga bimbingan dan kegiatannya.

Pola – pola Organisasi

Pola organisasi ialah kerangka hubungan struktural antara bagian-bagian di dalam suatu badan sosial yang merupakan unit kerja, setiap bagian itu dapat menunjuk pada suatu bidang atau pada kedudukannya/posisi tertentu yang terdapat di dalam badan sosial. Kerangka struktur hubungan itu digambarkan dalam suatu organogram yaitu bagan organisasi yang menjelaskan secara grafis hubungan saling ketergantungan antara berbagai bidang atau antara berbagai petugas di bidang tertentu dengan menggunakan nama jabatan. Organogram di lembaga pendidikan menggambarkan hubungan struktural antara bidang administrasi dan supervisi, bidang pengajaran dan bidang pembinaan siswa, masing – masing dilengkapi dengan subbagian-subbagian kalau ada, menggambarkan hubungan struktural antara petugas-petugas yang mempunyai kedudukan/posisi tertentu di masing-masing bidang atau subbidang tadi, dengan mencantumkan nama jabatan.

Koordinator Bimbingan

Koordinator memegang adiministrasi bimbingan tugasnya yaitu mengatur kerja sama di antara tenaga bimbingan dan mengarahkan semua kegiatan bimbingan yang mereka lakukan. Koordinator bersama dengan seluruh anggota staf bimbingan yang lain membentuk suatu tim kerja yang bersama-sama mengusahakan pelayanan bimbingan yang seoptimal mungkin. Sebab itu kordinator harus dapat membina variasi saluran komunikasi seperti :

1. Komunikasi adalah proses timbal balik (feedback) terhadap apa yang disampaikan oleh orang yang satu kepada yang lain

2. Komunukasi secara lisan lebih efektif dan memuaskan daripada komunikasi secara tertulis saja

3. Komnikasi secara tertulis sebaiknya singkat dan padat serta menyatakan hal-hal pokok

4. Komunikasi antara orang professional dan biasanya tenggelam dalam macam-macam kesibukan.

Pembagian tugas di antara anggota-anggota staf bimbingan sesuai dengan jabatannya masing-masing dalam organogram jabatan, menjadi wewenang tanggung jawab kordinator.

Administrasi Program Bimbingan

Dalam mengadministrasikan suatu program bimbingan tidak cukup merencanakan dan melaksanakan sejumlah kegiatan saja, harus ditentukan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan, apa yang akan dicapai, apa sasaran konkret yang ingin dicapai, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai setelah itu dapat direncanakan kegiatan yang akan membawa kepencapaian semua tujuan itu.

Deskripsi program bimbingan dalam bentuk perumusan verbal, yang pada umumn ya mengikuti sistematika sebagai berikut :

I. Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pelayanan bimbingan di sekolah

II. Tujuan-tujuan umum program bimbingan di sekolah untuk semua tingkatan kelas dan untuk masing-masing tingkatan kelas.

A. Komponen Pengumpulan Data

1. Tujuan-tujuan khusus

2. kegiatan-kegiatan yang direncanakan :

a. di tingkat kelas mana

b. pada waktu kapan

c. secara individual atau kelompok

d. dalam bentuk apa (yang pokok saja)

e. dikelola oleh tenaga siapa

B. Komponen Pemberian Informasi

1. Tujuan-tujuan khusus

2. kegiatan-kegiatan yang direncanakan

a. ditingkat kelas mana

b. pada waktu kapan

c. secara individual atau kelompok

d. dalam bentuk apa (yang pokok saja)

e. dikelola oleh tenaga siapa

C. ………….. dan seterusnya untuk komponen lainnya…..

Minggu, 15 Januari 2012

TESTIMONI

Selama mengikuti mata kuliah Bimbingan dan Konseling Sekolah, banyak hal yang saya dapatkan mengenai apa itu bimbingan dan konseling, layanan-layanan bimbingan konseling, teori-teori konseling, konseling kelompok dan individu, dan lain-lain yang menambah wawasan dan sangat bermanfaat bagi saya ketika memasuki dunia kerja nanti. Selama proses perkuliahan berlangsung banyak kesan-kesan yang saya rasakan dimulai dari ketika Bu Dina marah karena kami kurang efektif ketika mengikuti perkuliahan sehingga kami merubah tempat duduk menjadi melingkar dengan harapan proses belajar dapat berjalan lebih baik, lalu untuk menambah pemahaman kami Bu Dina mengundang salah satu Alumni dari Fak Psikologi yang memberikan kami pemahaman mengenai bimbingan dan koseling di sekolah, lalu tugas observasi kesekolah, disana saya bisa melihat secara langsung bagaimana proses konseling yang dilakukan disekolah tersebut, dan ada banyak pengalaman dan kesan lainnya.

Dalam UAS Online saya tidak merasakan ada banyak kesulitan karena memang bentuk ujian yang seperti ini sudah pernah saya dapatkan dalam mata kuliah sebelumnya yang diampu oleh Bu Dina juga, jadi saya merasa lebih gampang dalam mengerjakannnya. Saya senang dengan bentuk ujian Online ini selain lebih banyak waktu dapat digunakan untuk mencari jawaban juga dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang sudah sangat berkembang untuk ke arah yang positif.

Semoga UAS Online ini dapat memberikan manfaat dan juga menghasilkan nilai yang bagus. Terima kasih buat Bu Dina karena sudah sangat sabar sekali dalam mengajar kami, walaupun kami sering sekali bertingkah yang tidak diharapkan. Harapannya ini menjadi pelajaran buat kami semua.

Terimakasi Bu Dina

^_*

Kamis, 17 November 2011

SHARING ALUMNI MK BIMBINGAN KONSELING SEKOLAH

Pada tanggal 15 November 2011, di kelas Bimbingan Konseling kami mendapat kunjungan dari seorang alumni Psikologi USU angkatan 1999 yang bernama kak Ganda. Kak Ganda banyak mensharingkan kepada kami pengalaman-pengalaman yang didapatkan selama perkuliahan dan juga selama bekerja yang berhubungan dengan mata kuliah Bimbingan Konseling. Dari sharing kak Ganda saya mendapat pengetahuan baru mengenai Bimbingan Konseling sekolah itu seperti apa dan apa tujuannya. Beberapa poin penting yang disampaikan oleh Kak Ganda adalah mengenai :

  • Apa beda konseling sekolah dengan BP

Konseling sekolah adalah pertemuan antara konselor dengan konseli dimana konselor membantu konseli untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapinya sehingga konseli mampu untuk memecahkan/menyelesaikan masalah sendiri. Konseling juga bukan hanya berfokus pada siswa-siswa yang mengalami masalah tetapi juga membantu siswa dalam pengembangan karir.
BP bertugas sebagai menangani masalah-masalah umum dari siswa seperti mendata siswa yang melakukan pelanggaran atau yang membutuhkan untuk memecahkan masalahnya seperti masalah akademik dan karir. Setelah BP mendata siswa tersebut maka BP akan menyerahkannya pada konselor dan konselor yang akan membantu siswa tersebut untuk mengidentifikasi masalah.

  • Siapa yang pantas menjadi konseling sekolah

Seseorang yang pantas untuk menjadi seorang konseling adalah orang-orang yang profesional yang harus melewati pelatihan konselor agar dapat dianggap sah untuk melakukan konseling. Siapa saja dapat menjadi konselor tetapi harus melalui pelatihak-pelatihan khusus untuk konselor,

  • Peluang kerja

Konselor akan sangat dibutuhkan di sekolah hanya saja terkadang sekolah kurang memahami tugas-tugas konselor tersebut dan mereka terkadang menolak dengan alasan biaya.

  • Kelemahan konseling sekolah

1. Sekolah tidak menghargai proses konseling dan menganggap siapapun dapat melakukan konseling

2. Sekolah tidak mau untuk mengeluarkan biaya untuk konselor karena dianggap mahal

3. Sekolah merasa mereka dapat menyelesaikan masalah

4. Sekolah menganggap dengan memanggil orangtua dapat menyelesaikan masalah siswa.

Salah satu saran yang penting dari Kak Ganda adalah jangan mengotak-ngotakkan pikiran kita mengenai Psikologi, karena terkadang kita merasa ketika kita menginginkan pekerjaan tertentu maka kita memilih untuk masuk ke psikologi tertentu misalnya karena kita ingin bekerja di perusahaan maka kita mengambil psikologi Industri padahal sebenarnya psikologi ruang lingkup kerjanya sangat luas dari Psikologi bagian apapun kita, kita bisa bekerja dimanapun.

Terima kasih untuk Kak Ganda yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membagikan pengalaman-pengalamannya kepada kami, sehingga pikiran kami juga bisa terbuka dan kami bisa mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai Bimbingan dan Konseling.